
The increasing number of suicide cases in Bali has become a deeply concerning issue. According to police data, 3 out of 100 deaths in Bali are due to suicide, a rate five times higher than the national average. The head of the Bali Association of Psychiatric Doctors even suggested that the actual figures could be significantly higher than those published.
Two primary causes contribute to this alarming trend:
- Frustration due to economic pressure: Many individuals struggle to meet their daily needs, leading to despair.
- Despair from chronic illness: Often closely tied to poverty, prolonged illness without access to proper treatment drives many into hopelessness.
This situation is heartbreaking and raises critical questions:
Should the government be held accountable for failing to ensure the welfare of its people?
Are religious leaders not doing enough to elevate the spiritual understanding of their communities?
Can wealthy individuals who refuse to share their surplus wealth be considered indifferent or even negligent?
We may not have the capacity to judge or assign blame for these questions. However, it is evident that such phenomena reflect a lack of harmony between humans and their fellow beings, as well as between humans and God.
In Srimad Bhagavad-gita, Chapter 7, Verse 10, Sri Krishna declares:
“O son of Pṛthā, know that I am the original seed of all existence.”

बीजं मां सर्वभूतानां विद्धि पार्थ सनातनम् ।
बुद्धिर्बुद्धिमतामस्मि तेजस्तेजस्विनामहम् ॥ १० ॥
bījaṁ māṁ sarva-bhūtānāṁ
viddhi pārtha sanātanam
buddhir buddhimatām asmi
tejas tejasvinām aham
This verse reminds us that Krishna is the supreme father of all living beings. As the Divine Father, He desires the well-being of all His children. Nature itself provides abundantly for all creatures, including humans, animals, and plants. If humanity lived according to Vedic values—embracing simplicity, aligning life with spiritual principles, and involving God in every activity—poverty would cease to exist.
Sri Krishna further assures in Bhagavad-gita, Chapter 9, Verse 22:
“But those who always worship Me with exclusive devotion, meditating on My transcendental form—to them, I carry what they lack, and I preserve what they have.”

अनन्याश्चिन्तयन्तो मां ये जना: पर्युपासते ।
तेषां नित्याभियुक्तानां योगक्षेमं वहाम्यहम् ॥ २२ ॥
ananyāś cintayanto māṁ
ye janāḥ paryupāsate
teṣāṁ nityābhiyuktānāṁ
yoga-kṣemaṁ vahāmy aham
Unfortunately, in today’s materialistic world, where sense gratification, wealth, and superficial success are prioritized, people are drifting further away from spiritual values and God. This detachment is perilous, as life loses its true purpose without a connection to the Divine.
In Balinese tradition, those who die by suicide are known as salah pati. Their souls are believed to become wandering spirits, suffering immense torment.
Thus, it is imperative to return to the teachings of the Vedas. A life of simplicity, rooted in spiritual values and devotion to God, is the key to creating a harmonious and peaceful existence for all.
***
Contributor: I Wayan Wisanta
Terjemahan
Meningkatnya Kasus Bunuh Diri di Bali: Refleksi dan Solusi dari Perspektif Weda
Kasus bunuh diri di Bali terus meningkat, mencatat angka yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data kepolisian, 3 dari 100 orang Bali meninggal karena bunuh diri. Angka ini lima kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Ketua Persatuan Dokter Penyakit Jiwa di Bali bahkan menyebut bahwa angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar dari yang dipublikasikan.Dua penyebab utama dari fenomena ini adalah:
- Frustrasi akibat tekanan ekonomi: Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari menjadi salah satu pemicu utama.
- Putus asa karena penyakit yang tidak kunjung sembuh: Kondisi ini sering kali terkait erat dengan kemiskinan yang menghambat akses terhadap pengobatan yang memadai.
Situasi ini tentu sangat menyedihkan. Namun, muncul pertanyaan: siapa yang bertanggung jawab atas hal ini?
Apakah pemerintah yang gagal memakmurkan rakyat layak disalahkan?
Apakah para pemuka agama kurang berkontribusi dalam mencerdaskan rohani umat?
Apakah orang-orang kaya yang enggan berbagi kekayaan dapat disebut sebagai pihak yang tidak peduli?
Kita tidak memiliki kapasitas untuk menilai apalagi memberikan hukuman atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yang jelas, fenomena ini mencerminkan ketidakharmonisan antara manusia dengan sesama dan dengan Tuhan.
Dalam Srimad Bhagavad-gita Bab 7 Ayat 10, Sri Krishna bersabda:
“Wahai putra Pṛthā, ketahuilah bahwa Aku adalah benih asli segala kehidupan.”

बीजं मां सर्वभूतानां विद्धि पार्थ सनातनम् ।
बुद्धिर्बुद्धिमतामस्मि तेजस्तेजस्विनामहम् ॥ १० ॥
bījaṁ māṁ sarva-bhūtānāṁ
viddhi pārtha sanātanam
buddhir buddhimatām asmi
tejas tejasvinām aham
Ini mengingatkan kita bahwa Krishna adalah ayah sejati bagi semua makhluk hidup. Sebagai Ayah Ilahi, Beliau menginginkan kesejahteraan bagi semua anak-anak-Nya. Sebenarnya, alam telah menyediakan segala kebutuhan untuk semua makhluk hidup, termasuk manusia, binatang, dan tumbuhan. Jika manusia menjalani hidup dengan benar, mengikuti nilai-nilai Weda, hidup sederhana, dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas, kemiskinan tidak akan ada.
Sri Krishna juga berjanji dalam Bhagavad-gita Bab 9 Ayat 22:
“Tetapi orang yang selalu menyembah-Ku dengan bhakti tanpa tujuan lain dan bersemadi pada bentuk rohani-Ku—Aku bawakan apa yang mereka butuhkan, dan Aku pelihara apa yang mereka miliki.”

अनन्याश्चिन्तयन्तो मां ये जना: पर्युपासते ।
तेषां नित्याभियुक्तानां योगक्षेमं वहाम्यहम् ॥ २२ ॥
ananyāś cintayanto māṁ
ye janāḥ paryupāsate
teṣāṁ nityābhiyuktānāṁ
yoga-kṣemaṁ vahāmy aham
Namun, di era modern ini, kehidupan yang berorientasi pada materialisme, pemuasan indra, dan kekayaan sebagai tolok ukur kesuksesan justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual. Ini berbahaya, karena tanpa keterhubungan dengan Tuhan, hidup manusia kehilangan makna sejati.
Dalam tradisi Bali, orang yang meninggal karena bunuh diri dikenal sebagai mati salah pati. Roh mereka dipercaya akan menjadi hantu yang gentayangan dan mengalami penderitaan yang mendalam. Oleh karena itu, mari kita kembali kepada ajaran Weda yang mulia. Hidup sederhana, berpegang pada nilai-nilai spiritual, dan melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan adalah kunci untuk menciptakan dunia yang lebih damai dan harmonis.
***
Kontributor: I Wayan Wisanta




Leave a comment