Preserving the Sanctity of Catur Asrama in Kali-Yuga

In the Srimad Bhagavad-gita, the Lord promises to bestow sufficient intelligence upon His devotees to comprehend the sacred teachings of the Vedic scriptures. This understanding is achieved under the guidance of trusted acaryas or spiritual teachers.

In the Srimad Bhagavad-gita, the Lord promises to bestow sufficient intelligence upon His devotees to comprehend the sacred teachings of the Vedic scriptures. This understanding is achieved under the guidance of trusted acaryas or spiritual teachers.

Bg. 10.10

तेषां सततयुक्तानां भजतां प्रीतिपूर्वकम् ।
ददामि बुद्धियोगं तं येन मामुपयान्ति ते ॥ १० ॥

teṣāṁ satata-yuktānāṁ
bhajatāṁ prīti-pūrvakam
dadāmi buddhi-yogaṁ taṁ
yena mām upayānti te

Translation

To those who are constantly devoted to serving Me with love, I give the understanding by which they can come to Me.

One such teaching, familiar to many of us since primary school, is the concept of Catur Asrama. This refers to the four ideal stages of life in Hindu philosophy, designed to guide individuals toward the ultimate purpose of life. These stages are:

  1. Brahmacari Asrama – The stage of disciplined student life.
  2. Grhastha Asrama – The stage of household life.
  3. Vanaprastha Asrama – The stage of gradual detachment.
  4. Sanyasa Asrama – The stage of complete renunciation.

In modern times, particularly in Indonesia, it seems that only the first two stages (brahmacari and grhastha) are widely practiced. The latter stages, vanaprastha and sanyasa, are rarely, if ever, observed.

This raises an important question: should we create narratives to justify the omission of the third and fourth stages, tailoring the teachings to fit modern circumstances? I believe this is not a wise approach. The teachings of the Lord are perfect as they are, with no room for modification or reinterpretation to suit our preferences.

Let us remember that the Lord is omniscient and infinitely wise. He is fully aware of the challenges His devotees face and has already provided the solution. In this age of Kali (kali-yuga), the recommended method to attain Him is through the spiritual practice of nama-sankirtanam—the constant chanting of His holy names. This is known as the highest yajna (sacrifice) for this age, or sankirtanam maha yajna.

What makes this method extraordinary is its simplicity and accessibility. It requires no special qualifications, making it attainable for everyone, regardless of their circumstances.

Therefore, the teaching of Catur Asrama must remain intact and unaltered. Attempting to reinterpret or adapt it to our liking would be a grave error. Let us honor the wisdom of the scriptures and embrace the spiritual practices prescribed for this age with sincerity and devotion.

***

Contributor: I Wayan Wisanta


Terjemahan


Menjaga Keaslian Ajaran Catur Asrama di Zaman Kali

Dalam Srimad Bhagavad-gita, Tuhan berjanji akan menganugerahkan kecerdasan yang cukup kepada umat-Nya untuk memahami setiap ajaran yang tertuang dalam kitab suci Weda. Pemahaman ini dapat dicapai melalui bimbingan para acarya atau guru kerohanian yang dapat dipercaya.

Bg. 10.10

तेषां सततयुक्तानां भजतां प्रीतिपूर्वकम् ।
ददामि बुद्धियोगं तं येन मामुपयान्ति ते ॥ १० ॥

teṣāṁ satata-yuktānāṁ
bhajatāṁ prīti-pūrvakam
dadāmi buddhi-yogaṁ taṁ
yena mām upayānti te

Terjemahan
Kepada mereka yang terus-menerus mengabdikan diri untuk melayani-Ku dengan kasih, Aku memberikan pemahaman yang dengannya mereka dapat datang kepada-Ku.

Salah satu ajaran yang sudah kita kenal sejak masa sekolah dasar adalah konsep Catur Asrama. Konsep ini menjelaskan empat tahapan kehidupan ideal dalam tradisi Hindu, yang bertujuan untuk membimbing manusia menuju tujuan tertinggi kehidupan. Keempat tahapan tersebut adalah:

1. Brahmacari Asrama – Tahap kehidupan sebagai siswa yang disiplin.

2. Grhastha Asrama – Tahap kehidupan sebagai kepala keluarga.

3. Vanaprastha Asrama – Tahap pelepasan duniawi secara bertahap.

4. Sanyasa Asrama – Tahap kehidupan sebagai petapa yang sepenuhnya meninggalkan dunia.

Di era modern, khususnya di Indonesia, praktik Catur Asrama sering kali terbatas pada dua tahap pertama, yaitu brahmacari dan grhastha. Sementara itu, tahap ketiga (vanaprastha) dan keempat (sanyasa) jarang, bahkan hampir tidak pernah dijalankan.

Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah kita perlu menciptakan narasi pembenaran untuk mengabaikan dua tahap terakhir tersebut, dengan alasan menyesuaikan ajaran sesuai kondisi zaman? Saya percaya bahwa hal tersebut bukan langkah yang bijak. Ajaran Tuhan sudah sempurna sebagaimana adanya, tanpa memerlukan penyesuaian atau reinterpretasi berdasarkan selera kita.

Kita harus menyadari bahwa Tuhan Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Beliau memahami setiap kendala yang dihadapi umat-Nya dan telah memberikan solusi yang relevan. Di zaman Kali (kali-yuga), metode yang direkomendasikan Tuhan untuk mencapai-Nya adalah melalui Nama-Sankirtanam, yaitu memuji dan melantunkan nama suci-Nya secara terus-menerus. Metode ini dikenal sebagai sankirtanam maha yajna, pengorbanan tertinggi untuk zaman ini. Keistimewaan dari praktik ini adalah kesederhanaannya. Tidak ada persyaratan khusus untuk melakukannya, sehingga siapa pun dapat melakukannya tanpa terkecuali.

Oleh karena itu, ajaran Catur Asrama harus tetap dijaga keutuhannya tanpa diubah atau ditafsirkan ulang sesuai keinginan kita. Usaha untuk menyesuaikan ajaran ini dengan alasan apa pun merupakan sebuah kesalahan besar. Mari kita hormati kesempurnaan ajaran Tuhan dan menjalankan praktik spiritual yang telah disarankan untuk zaman ini dengan tulus dan penuh keyakinan.

***

Kontributor: I Wayan Wisanta

Leave a comment