Perang besar Kuruksetra bukanlah sekadar konflik fisik antara Pandawa dan Kurawa, melainkan pertempuran antara dharma (kebenaran) dan adharma (ketidakbenaran). Walaupun Sri Krishna memiliki kekuatan untuk menghancurkan pasukan adharma dengan sekejap, Beliau memilih untuk menggunakan para Pandawa—penganut dharma—sebagai alat pelaksana kehendak ilahi. Dalam Bhagavad-gita Bab 11 ayat 33, Sri Krishna memerintahkan Arjuna untuk bangkit dan bertempur:

Bg. 11.33
तस्मात्त्वमुत्तिष्ठ यशो लभस्व
जित्वा शत्रून्भुंक्ष्व राज्यं समृद्धम् ।
मयैवैते निहता: पूर्वमेव
निमित्तमात्रं भव सव्यसाचिन् ॥ ३३ ॥
tasmāt tvam uttiṣṭha yaśo labhasva
jitvā śatrūn bhuṅkṣva rājyaṁ samṛddham
mayaivaite nihatāḥ pūrvam eva
nimitta-mātraṁ bhava savya-sācin
“Karena itu, bangunlah. Siap-siap untuk bertempur dan merebut kemasyhuran. Kalahkanlah musuhmu dan nikmatilah kerajaan yang makmur. Mereka telah dibunuh oleh apa yang telah Kuatur, dan engkau hanya menjadi alat dalam pertempuran, wahai Savyasachi.”
Savyasachi adalah salah satu nama Arjuna, yang menunjukkan kemampuannya menggunakan kedua tangan dengan sama baiknya dalam berperang.
Menjelang perang, para Pandawa dan Kurawa mencari restu dari para leluhur dan kepribadian suci. Bhismadeva, yang berdiri di sisi Kurawa, tetap dikunjungi oleh para Pandawa yang memohon restu dari kakek tercinta itu. Bhisma sendiri, walau berada di pihak lawan, mendoakan kemenangan bagi Pandawa karena melihat kebenaran di pihak mereka.
Pandawa juga memohon restu dari orang tua mereka, Dewi Kunti, Gandhari, Dhrtarastra, dan Vidura. Atas perintah Sri Krishna, Arjuna bahkan mengunjungi Dewi Durga untuk memohon berkah kemenangan.
Di sisi lain, Duryodhana pun mendatangi Sri Krishna, namun ia hanya meminta bantuan pasukan. Arjuna justru memilih kehadiran pribadi Krishna sebagai pemandu hidupnya, bukan kekuatan duniawi. Ketika Duryodhana memohon restu kepada ibunya Gandhari, ia justru tidak mendapatkannya—karena ibundanya memahami konsekuensi dari peperangan itu.
Mengapa Krishna Tidak Mencegah Perang?
Banyak yang bertanya, mengapa Sri Krishna tidak menghentikan perang? Mengapa Beliau tidak langsung saja menghancurkan pihak adharma?
Jawabannya adalah: Tuhan memberikan peran kepada manusia untuk berjuang sebagai bagian dari pelajaran spiritual. Kemenangan dharma harus terjadi melalui tindakan penuh kesadaran, doa, dan restu dari kekuatan ilahi, bukan semata karena kekuatan fisik atau mukjizat.
Di sinilah pentingnya restu dari para dewa, leluhur, dan kepribadian suci lainnya. Dalam tradisi Veda, kita diajarkan untuk menghormati mereka karena dukungan spiritual mereka memperkuat posisi kita dalam menghadapi pengaruh maya (ilusi) dan kekuatan Kali Yuga yang semakin mendominasi zaman ini.
Kuningan: Hari Penghormatan kepada Para Leluhur
Pada hari Sabtu, 3 Mei 2025, kita merayakan Hari Raya Kuningan. Ini adalah momen suci untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih kepada:
- Para leluhur yang telah berpulang, agar mereka memperoleh kedamaian di Pitra-loka, Surga-loka, atau bahkan dunia rohani yang kekal.
- Orang tua kita yang masih hidup, sebagai bentuk bakti dan cinta yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
- Para dewa dan kepribadian suci, yang keberadaannya memungkinkan kita menjalani hidup ini dengan tuntunan spiritual.

Melalui persembahan suci dan rasa syukur tulus, kita menyambung kembali hubungan suci antara manusia dan kekuatan ilahi, antara yang hidup dan yang telah pergi.
Penutup
Kemenangan dharma bukan hanya kisah masa lalu, melainkan panggilan untuk hidup kita hari ini. Dengan doa, restu, dan kesadaran spiritual, kita bisa menjadi alat dalam rencana besar Tuhan untuk menghadirkan kebaikan di dunia ini.
Selamat merayakan Hari Raya Kuningan. Semoga Tuhan memberkati kita semua.




Leave a comment