no na: Girl Group Indonesia yang Menghadirkan Budaya Nusantara ke Panggung Global

Pada Mei 2025, 88rising, label musik ternama asal Amerika Serikat, resmi memperkenalkan grup musik wanita asal Indonesia, no na. Grup ini terdiri dari empat anggota berbakat: Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine, dan Shazfa Adesya.

Pada 2 Mei 2025, 88rising, label musik ternama asal Amerika Serikat, resmi memperkenalkan grup musik wanita asal Indonesia, no na. Grup ini terdiri dari empat anggota berbakat: Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine, dan Shazfa Adesya.

Tentang 88rising dan Debut Grup Indonesia “no na”

Apa itu 88rising?

88rising adalah label musik asal Amerika Serikat yang terkenal karena fokusnya pada musisi Asia. Didirikan pada tahun 2015, 88rising awalnya dikenal lewat kanal YouTube dan media sosial, sebelum menjadi label rekaman penuh yang kini punya pengaruh besar di industri musik global.

Mereka punya gaya khas: musik pop, hip hop, R&B yang seringkali memadukan budaya Asia dengan tren musik barat. Label ini juga sering tampil di festival besar seperti Coachella, dan punya event sendiri yang disebut “Head in the Clouds Festival.”

Siapa saja orang Indonesia yang bergabung ke 88rising?

Beberapa musisi Indonesia sudah lebih dulu masuk ke dalam label ini, antara lain:

  • Rich Brian – rapper asal Jakarta yang viral di usia remaja. Lagu debutnya “Dat $tick” meledak di internet dan dia kini jadi nama besar di hip hop global.
  • NIKI – penyanyi asal Jakarta yang dikenal lewat suara khas dan lagu-lagu pop-R&B. Album-albumnya dipuji kritikus internasional dan ia juga tampil di Coachella.
  • Stephanie Poetri – dikenal lewat lagu “I Love You 3000,” lagu ini viral dan membawanya ke panggung internasional.
  • Warren Hue – musisi muda asal Jakarta dengan gaya rap eksperimental dan futuristik.

Keempatnya menjadi contoh bagaimana talenta dari Indonesia bisa mendapat tempat dan pengakuan di industri musik dunia lewat 88rising.

Sekarang, ada grup baru asal Indonesia: no na

Pada Mei 2025, 88rising resmi memperkenalkan girl group pertama mereka dari Indonesia yang bernama no na. Grup ini terdiri dari empat anggota: Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine, dan Shazfa Adesya.

Debut mereka disambut antusias karena:

  • Mereka adalah girl group Indonesia pertama yang berada di bawah naungan label internasional seperti 88rising.
  • Teaser debut mereka menampilkan unsur budaya Indonesia seperti gamelan, lanskap Bali, Jakarta, dan Lombok, yang dipadukan dengan musik modern dan visual sinematik.

Konsep yang Beda: Lanskap Nusantara yang Universal

Hal yang langsung mencuri perhatian dari debut no na adalah konsep yang mereka angkat. Bukan sekadar girl group dengan lagu catchy dan koreografi keren, mereka hadir dengan identitas yang kuat.

Yang bikin spesial, no na membawa lanskap Indonesia sebagai bagian utama dari visual dan konsep mereka. Dalam video teaser dan klip perdana, kita bisa melihat pemandangan alam Indonesia. Semua itu ditampilkan dengan sinematografi yang cantik dan penuh rasa bangga.

Dan menariknya, konsep ini nggak cuma bisa dirasakan oleh orang Indonesia. Justru, buat penonton dari negara-negara Asia Tenggara lain seperti Filipina, Thailand, atau Vietnam, visual semacam ini terasa familiar dan dekat. Karena memang banyak kesamaan budaya, warna, dan suasana alam di kawasan ini. Jadi, meskipun ini tentang Indonesia, kesannya tetap universal dan mudah diterima oleh banyak orang.

Single Perdana Mereka: Lembut, Visualnya Mewah

Single pertama mereka “Shoot”, benar-benar jadi pembuka yang indah. Musiknya lembut, penuh nuansa, tapi tetap punya energi modern yang bikin telinga nyaman. Vokal para anggota juga terasa alami dan hangat, tidak dipaksakan untuk terdengar “barat.”

Yang paling mencolok tentu saja video klipnya. Dari segi visual, ini bukan video klip biasa. Pencahayaannya halus, pemilihan lokasinya epik, dan tone warnanya dibuat sedemikian rupa hingga terasa sinematik. Rasanya seperti menonton film pendek yang mempromosikan keindahan Indonesia.

Ada kesan damai, hangat, dan penuh harapan. Cocok banget buat jadi identitas awal grup ini. Dan buat saya pribadi, ini bukan cuma debut yang menjanjikan, tapi juga menyentuh secara emosional.

no na dan Diplomasi Budaya: Perspektif Hubungan Internasional

Dalam studi hubungan internasional, diplomasi budaya adalah upaya suatu negara untuk mempromosikan identitas, nilai, dan citra positifnya ke dunia internasional melalui aspek budaya—seperti musik, film, kuliner, atau bahasa. Tujuan akhirnya adalah untuk membangun soft power: kekuatan yang tidak didasarkan pada militer atau ekonomi, tetapi pada daya tarik dan pengaruh budaya.

Contoh sukses diplomasi budaya antara lain:

  • K-Pop dan K-Drama sebagai alat soft power Korea Selatan
  • Anime dan budaya tradisional Jepang
  • Hollywood sebagai representasi nilai-nilai Amerika

no na sebagai Alat Diplomasi Budaya Indonesia

Dalam konteks ini, debut no na lewat 88rising adalah contoh nyata bagaimana budaya pop Indonesia bisa menjadi sarana diplomasi budaya yang efektif:

  • Mereka mengangkat elemen lokal Indonesia, seperti gamelan, lanskap alam Nusantara, dan identitas visual yang tidak dikemas secara klise, tapi modern dan sinematik.
  • Mereka menggunakan bahasa global (musik, visual, storytelling) yang mudah dimengerti oleh audiens internasional, tapi tetap membawa “rasa” Indonesia.
  • Mereka juga menjadi representasi dari generasi muda Indonesia yang berdaya saing global, kreatif, dan terbuka, tanpa kehilangan akar budayanya.

Ini secara langsung membangun citra Indonesia sebagai negara yang modern, kaya budaya, dan relevan dalam percakapan global—tanpa harus lewat pidato politik atau konferensi formal.

Peran Aktor Non-Negara: Mengapa Bisa Lebih Efektif dari Pemerintah?

Dalam hubungan internasional, aktor non-negara (non-state actors) seperti perusahaan media, selebriti, LSM, bahkan influencer, kini dianggap sebagai agen penting dalam membentuk persepsi global. Mereka sering kali:

  1. Lebih fleksibel: Tidak terikat oleh protokol diplomatik atau birokrasi negara.
  2. Lebih autentik: Pesan yang disampaikan terasa lebih alami, karena datang dari individu atau institusi budaya, bukan dari pemerintah.
  3. Lebih luas jangkauannya: Platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram membuat mereka bisa menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat.
  4. Lebih engaging: Produk budaya seperti musik jauh lebih menarik dan relatable dibanding kampanye formal negara.

88rising, dalam hal ini, adalah aktor non-negara yang sangat berpengaruh karena telah sukses memperkenalkan musisi Indonesia ke panggung global tanpa membawa agenda negara secara eksplisit, tapi justru menghasilkan efek diplomatik yang kuat.

Potensi Dampaknya Jika no na Sukses Besar

Jika no na berhasil mendapat perhatian global, dampaknya terhadap Indonesia bisa sangat signifikan:

  • Penguatan citra Indonesia sebagai pusat kreativitas dan kebudayaan di Asia Tenggara.
  • Peningkatan daya tarik wisata dan investasi budaya. Banyak orang bisa tertarik datang ke Indonesia karena penasaran dengan “suasana” yang mereka lihat di video musik.
  • Perluasan diplomasi budaya: Pemerintah bisa ikut memanfaatkan momen ini untuk mendorong sektor kreatif dan pariwisata.
  • Inspirasi bagi generasi muda: Kesuksesan no na bisa memicu semangat untuk berkarya dan membawa budaya lokal ke kancah global dengan cara yang modern.

Kesimpulan:

no na bukan sekadar girl group baru, mereka adalah wajah baru Indonesia di panggung global. Dengan dukungan 88rising, musik lembut, visual sinematik, dan sentuhan budaya Nusantara, mereka menunjukkan bahwa diplomasi budaya tak harus lewat pidato atau bendera, tapi bisa lewat lagu dan kamera. Ketika pemerintah sibuk dengan protokol, no na melangkah lebih jauh: membawa Indonesia ke dunia, dengan cara yang indah dan relevan. Kalau ini sukses besar, dunia tak hanya akan mendengar lagu mereka, tapi juga merasakan Indonesia.


Leave a comment