Memperingati Sri Nrsimha Caturdasi: Janji Perlindungan Tuhan bagi Para Bhakta-Nya

sri nṛsiṁha uvāca

tvam prapanno ‘smi śaraṇam deva-devam janārdanam

iti yaḥ śaraṇaṁ prāptas taṁ kleśād uddharāmy aham

(Sri Nṛsiṁha Stotra, bait 5)

Tuhan Sri Nṛsiṁha bersabda:
Aku membebaskan dari segala penderitaan siapa pun yang berlindung kepada-Ku dengan berkata:
Wahai Tuhan dari segala dewa, wahai perlindungan tertinggi, aku berserah diri kepada-Mu.’

Demikian janji Tuhan kepada siapa pun yang senantiasa tekun dalam bhakti dan berlindung di kaki padma-Nya, bahwa Beliau sendirilah yang akan menjamin kehidupannya. Semoga kita dapat menjadikan ayat ini sebagai media pendekatan diri kepada Tuhan, dengan terus meningkatkan kesadaran ilahi yang semakin maju.

Kemunculan Sri Nrsimhadeva

Tuhan menampakkan diri ke bumi dalam wujud Sri Nrsimhadeva pada akhir Satya-yuga. Misi avatara tersebut tetap sama, meskipun dalam wujud yang berbeda dan pada zaman yang berlainan. Seperti Sri Matsya Avatara, Sri Kurma Avatara, Sri Rama Avatara, Sri Varaha Avatara, Sri Vamana Avatara, dan seterusnya — untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma yang kekal saat kekuatan adharma semakin menguat.
(Srimad Bhagavad-gita, Bab 4 ayat 7)

Tanggal 11 Mei 2025, umat Hindu memperingati Sri Nrsimha Caturdasi, hari kemunculan Sri Nrsimhadeva — yang terjadi pada waktu sandhyakala (senja).

Kisah Prahlada Maharaja dan Hiranyakasipu

Sri Nrsimhadeva turun untuk menyelamatkan Prahlada Maharaja, seorang anak berusia lima tahun yang mendapat pendidikan spiritual dari Devarsi Narada sejak dalam kandungan. Meski masih kecil, Prahlada menjadi bhakta sejati Sri Visnu, bahkan mengajak teman-temannya untuk memuja Tuhan.

Namun, ayahnya sendiri, Hiranyakasipu, adalah seorang raja asura yang sangat sakti dan berkuasa atas tiga dunia. Ia menggiring rakyatnya untuk tidak percaya kepada Tuhan dan menjalani hidup secara ateis. Karena kesaktiannya yang luar biasa, bahkan para dewa pun takluk kepadanya.
Ia memperoleh kesaktian dari Dewa Brahma setelah menjalani pertapaan yang sangat keras: berdiri dengan satu kaki sambil menatap matahari dalam waktu yang sangat lama. Hal ini membuat Dewa Brahma puas dan berkenan memenuhi segala permintaannya, antara lain: tidak bisa mati oleh senjata apa pun; tidak bisa dibunuh baik siang maupun malam; tidak bisa dibunuh di dalam maupun di luar ruangan, di darat, di air, maupun di udara; tidak bisa dibunuh oleh manusia maupun hewan— yang intinya mendekati hidup abadi.

Karena kesaktian luar biasa itu, ia sering mengusik ketenangan para dewa di surga, sehingga kehidupan manusia dan para dewa dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Walaupun begitu hebat, ia tetap tidak berhasil menghentikan putranya menjadi penyembah Visnu.

Dalam keputusasaan, ia memutuskan akan membunuh putranya sendiri.
Ketika kemarahan Hiranyakasipu memuncak, ia membentak putranya dan menanyakan di mana Sri Visnu berada.

Pertanyaan sang ayah dijawab dengan lembut oleh sang anak, “Dia ada di mana-mana, Ayah.”
Hiranyakashipu lalu berkata, “Coba tunjukkan Dia! Kalau tidak, engkau akan kubunuh sekarang juga!”

Ketika itu, tepat pada waktu sandhyakala, tiba-tiba terdengar suara gemuruh menggelegar sangat keras. Pilar istana pecah, dan muncul sosok Tuhan dalam wujud menggetarkan: Sri Nrsimhadeva, separuh manusia dan separuh singa, memancar sinar cemerlang yang menyejukkan bagi para bhakta, namun mengerikan bagi asura.

Beliau mengangkat Hiranyakasipu ke pangkuan-Nya, duduk di ambang pintu istana, dan merobek dadanya dengan kuku tajam-Nya — membunuhnya tanpa melanggar satu pun janji Dewa Brahma:

Bukan siang dan bukan malam: terjadi saat sandhyakala.

Tidak di dalam dan tidak di luar: terjadi di ambang pintu.

Tidak di darat, air, atau udara: di pangkuan Tuhan.

Tidak oleh manusia atau binatang: oleh Tuhan dalam wujud manusia-singa.

Tanpa senjata: dibunuh dengan kuku.

Doa-doa pujian dari para dewa di kahyangan berkumandang, disertai taburan bunga surgawi yang harum semerbak.
Bersukacitalah.
Jayalah Sri Nrsimhadeva… Jayalah Sri Nrsimhadeva… Jayalah Sri Nrsimhadeva… dan seterusnya.

Setelah ayahandanya meninggal, Prahlada Maharaja dinobatkan menjadi raja. Ia mampu menggabungkan antara tugas keksatrian dan tugas kebrahmanaan dengan baik — yang dikenal dengan sebutan rajarsi.

Pelajaran dari Sri Nrsimha Caturdasi

Ada tiga pelajaran penting yang bisa kita renungkan:

  1. Tuhan Menepati Janji-Nya
    Beliau tidak pernah ingkar janji dalam melindungi para penyembah setia-Nya, apa pun situasinya.
  2. Tuhan Menghormati Janji Para Bhakta-Nya
    Meski harus membunuh Hiranyakasipu, Beliau tidak melanggar berkah Dewa Brahma — menunjukkan bahwa Tuhan menghormati janji para penyembah-Nya yang murni.
  3. Seorang Brahmana Bisa Lahir dari Mana Saja
    Prahlada Maharaja, meski lahir dari keluarga asura, menjadi penyembah suci karena pendidikan rohani sejak dini. Sama halnya dengan Vibhisana, adik Rahwana, yang setia kepada Sri Rama.

Penutup

Demikian kisah kemunculan Tuhan sebagai Sri Nrsimhadeva, yang kita peringati sebagai Hari Raya Sri Nrsimha Caturdasi.
Perayaannya dimulai bertepatan dengan waktu sandhyakala.
Semoga kisah ini menambah wawasan bagi kita semua bahwa Hindu sangat kaya dengan berbagai upacara dan ritual.



Leave a comment