Renungan atas Tingginya Gangguan Mental di Bali: Sebuah Pendekatan Spiritual

Mencermati pernyataan dari ekonom dan pengamat kebijakan publik, Jero Gede Sudibyo, beliau menyebut bahwa tingkat gangguan jiwa di Bali dua kali lebih tinggi dari rata-rata nasional. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI tahun 2015–2018, 34 dari 1.000 orang Bali mengalami gangguan jiwa, sedangkan rata-rata nasional hanya 17 dari 1.000.

Mari kita jadikan data ini sebagai bahan perenungan yang mendalam, bukan bahan untuk menyalahkan siapa pun.

Hal ini mengingatkan kita pada fakta lainnya, bahwa tingkat bunuh diri di Bali juga lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Padahal, Bali dikenal luas sebagai pulau seribu pura, masyarakatnya terkenal ramah, religius, menjunjung tinggi adat dan budaya, serta menjalankan nilai-nilai Tri Hita Karana. Maka timbul pertanyaan, mengapa sebagian masyarakat Bali justru mengalami kerentanan mental yang cukup serius?

Tak bisa dipungkiri, booming pariwisata Bali telah membawa dampak positif dalam hal ekonomi. Namun, dampak negatifnya pun sangat nyata—terutama dalam aspek keseimbangan batin dan spiritual masyarakat. Kemajuan teknologi informasi dan transportasi di era global membuat arus keluar-masuk barang dan orang ke Bali menjadi tak terbendung. Bersamaan dengan itu, budaya materialistik dan konsumtif tumbuh subur, tak terkecuali di Bali.

Persaingan hidup pun kian ketat. Tak semua orang mampu bersaing secara setara. Ketimpangan ini bisa menjadi salah satu pemicu tingkat stres yang tinggi di Bali. Kesempatan kerja dan ruang usaha semakin terbatas. Beban ekonomi, tekanan sosial, tuntutan adat, serta ekspektasi budaya juga bisa menambah berat beban mental seseorang.

Setiap orang tentu memiliki interpretasi pribadi dalam menyikapi kenyataan ini. Saya akan mencoba menyampaikan sudut pandang spiritual berdasarkan ajaran Veda, khususnya Srimad Bhagavad-gita.

Dharma, Bhakti, dan Jalan Menuju Ketenangan Batin

Ajaran utama Bhagavad-gita adalah untuk mengerti tentang Krishna, tentang jati diri, dan tentang tujuan hidup. Jalan untuk mencapainya adalah melalui bhakti—pengabdian kepada Tuhan. Dalam Bhagavad-gita Bab 9 ayat 26, Tuhan menyatakan bahwa persembahan sederhana namun dilandasi satva (kemurnian dan cinta) adalah bentuk pelayanan yang Dia terima.

Bg. 9.26

पत्रं पुष्पं फलं तोयं यो मे भक्त्य‍ा प्रयच्छति ।तदहं भक्त्य‍ुपहृतमश्न‍ामि प्रयतात्मन: ॥ २६

॥patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁyo me bhaktyā prayacchatitad ahaṁ bhakty-upahṛtamaśnāmi prayatātmanaḥ

Terjemahan

Jika seseorang dengan bhakti (cinta dan dedikasi spiritual) memberikan kepada-Ku selembar daun, sebiji bunga, buah, atau segelas air, Aku menerima persembahan tersebut dari mereka yang tulus dan berusaha

Lebih lanjut, Bhagavad-gita dan Veda mengajarkan bahwa yadnya tertinggi di era Kali-yuga ini adalah Nama Sankirtanam, yaitu memuji Nama Suci Tuhan secara berkelompok atau pribadi (japa). Ini ditegaskan dalam Bhagavad-gita Bab 10 ayat 25.

Bg. 10.25

महर्षीणां भृगुरहं गिरामस्म्येकमक्षरम् ।यज्ञानां जपयज्ञोऽस्मि स्थावराणां हिमालय: ॥ २५

maharṣīṇāṁ bhṛgur ahaṁgirām asmy ekam akṣaramyajñānāṁ japa-yajño ’smisthāvarāṇāṁ himālayaḥ

Terjemahan

Di antara resi-resi yang mulia, Aku adalah Bhṛgu; di antara getaran-getaran suara Aku adalah oḿ yang bersifat rohani. Di antara korban-korban suci Aku adalah ucapanucapan nama-nama suci Tuhan [japa], dan di antara benda-benda yang tidak bergerak Aku adalah pegunungan Himalaya.

Sementara itu, pertapaan (tapasya) adalah bentuk pengendalian diri. Menjalani hidup sederhana, puas dengan apa yang dimiliki, hanya makan makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan (prasadam), serta melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas—semua itu adalah wujud nyata dari tapasya.

Puasa spiritual seperti Ekadasi, serta japa Nama Suci Tuhan secara konsisten, merupakan cara-cara praktis untuk menjaga keseimbangan batin. Saat seseorang hidup bersama Tuhan, maka kecemasan akan berkurang, dan kebahagiaan sejati akan terasa meski di tengah dunia yang penuh kompetisi.

Inilah pemikiran saya: bahwa jalan bhakti dan hidup sederhana adalah pilihan sadar untuk mencegah kecemasan dan gangguan jiwa, sebagaimana data riset yang telah kita bahas.


Leave a comment